Bukan Karena Setan, Tapi Perlu Perawatan
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com
“Lagi-lagi kamu
telat”
“Maaf bu, ban motor
saya bocor”
“Lagi ? Ban motor
bocor kok dijadiin hobi?!”
“!@#$&(%$#!”
Omelan
dari dosen menari-nari ditelinga gue dan menjadi acara pembuka di kehidupan
kampus gue hari ini, untung aja masih boleh masuk kelas. Gue ngerasa hari ini
bakal sial banget, sebab udah pagi ini gue bangun kesiangan, enggak sempet
sarapan, buru-buru ke kampus, isi olah raga dan capek-capek dorong motor
gara-gara ban bocor pula. Oh ya satu lagi, tukang tambal ban yang jauh banget
dari lokasi bocornya ban motor gue adalah toping
pelengkap di atas kue penderitaan gue pagi ini. Akhirnya gue berjalan masuk ke
kelas dan duduk di deretan kursi yang hanya baris kursi tersebut aja yang masih
kosong, dimana lagi kalo nggak deretan kursi paling depan yang deket dengan
meja si dosen killer ini. Arrrrgh....
kelar hidup lo !!!.
“sst...
Angga, kok ban motor lu bocor lagi? bisa-bisanya aja” terdengar suara bisikan
dari temen gue Mella yang menghentikan lamunan gue tentang kesengsaraan dan
kejamnya hidup gue di pagi hari ini. Gue menoleh dan melihat si Mella, Gadis
keturunan Tionghoa yang berambut hitam panjang, kulit putih, dengan wajah yang cantik
dan manis. Gue jawab “tau nih, motor gue kayak taksi aja, ada argonya, setiap
perjalanan jauh di kilometer tertentu wajib bocor”. “enggak ngga, mungkin ada
yang salah sama motor lu dan perlu diperbaiki”, “Nggak Mel !!! gue yakin kalo
motor gue sudah di kutuk oleh raja para roh dan setan-setan jahat, kutukan itu akan
ngebuat ban motor gue bocor terus hingga akhir jaman !”, jawab gue dengan nada
teror dan tinggi. “Angga, kamu sudah telat, berisik pula, sekali lagi kamu
ribut terus soal ban, ibu gambar sebuah ban beneran di daftar nilaimu! ”,
teriak dosen gue yang suaranya jauh lebih tinggi dan lebih teror. Tawa kecil
dan lukisan senyum tampak di wajah Mella muncul disertai backsound tawa dari para mahasiswa di ruangan tersebut.
Akhirnya
kuliah dengan si dosen killer
tersebut selesai, ada jeda makan siang sebelum mata kuliah psikologi konsumen
jam dua nanti. Gue dan Mella memutuskan untuk makan di salah satu restauran
cepat saji deket kampus. “Ngga, naik motor gue aja, biar nggak telat”. Dengan
nada heran gue menjawab, “ini kan baru jam dua belas, restaurannya itu lho
deket, cuma perjalanan lima belas menit aja sampe”. “Perjalanan bolak-balik
tiga puluh menit, makan sejam, tambal ban setengah jam kalo nggak ngantri”
Jawab Mella disertai nada halus yang menusuk sangat dalam. Gue buang muka dan
pura-pura nggak peduli dengan perkataannya. Namun tepukan hangat di bahu
disertai senyumannya mengajak gue ikut tersenyum kembali.
Meski
menggunakan motor Mella, Gue tetap yang disuruh mengendarai motor. Entah aturan
dari mana cowok harus ngebonceng cewek, mungkin hal ini telah terjadi saat dinasti
Ming dulu. Perjalanan melewati parkiran kampus yang penuh menghantarnya ke
jalan utama kota Denpasar, Sudirman, begitulah biasanya kami menyebutnya, dan
sama seperti parkiran kampus, jalan itu enggak kalah penuh di waktu makan siang
dan pulang sekolah anak SD. Motor Mella sangat nyaman sekali saat digunakan, suara
motornya sangat halus, tarikan motornya sangat kuat, dan tidak perlu ribet naik
atau nurunin gigi dalam kondisi macet. “Vario memang motor yang menyenangkan ya
Mel, haha...” puji gue saat kami berada di lampu merah. “iya dong ngga, motor
siapa dulu? apalagi motor ini kan rajin gue rawat, makanya asik kalo dibawa
kemana-mana” jawabnya dengan bangga. Putaran roda motor kami pun terhenti,
dongkrak / standart motor telah
diturunkan, dan teriakan “ehh kuncinya jangan sampai ketinggalan” dari Mella
pun terdengar, kami sudah sampai di mall yang terdapat restauran cepat saji
favorit kami.
“Selamat
datang, makan disini kan ya? Mau Paha atau Dada mas?” sapa seorang wanita
penjaga kasir restauran cepat saji yang sangat cantik dan mempesona. “pan..
pantat... eh maksud saya dadanya mba, DADA !!!” jawaban yang muncul dengan
salah tingkah keluar dari mulut dan tubuh gue ini. Tatapan mata aneh yang
seolah-olah mengatakan ada pria mesum di hadapannya muncul dari si mba-mba
penjaga kasir ini, kabar baiknya tatapan mata ini tidak hanya dari si mba-mba
penjaga kasir tapi juga dari kasir-kasir lainnya, Mella dan beberapa orang yang
mengantri di belakang gue, suara tawa bapak-bapak juga terdengar dari antrian
di samping gue. “Saat membawa makanan kami ke meja yang dekat dengan jendela,
dengan nada kesal dan membuang wajahnya Mella mengatakan “lu ni ngga, dah jalan
bareng cewek, masih aja ya”. Gue hanya bisa tertawa kecil yang dipaksakan.
Makan
siang yang menyenangkan, piring yang terisi ayam goreng tepung yang lezat dan
nasi putih serta minuman bersoda milik gue telah hilang tak tersisa, keadaan
sebaliknya terlihat di piring Mella, “Cewek, biasa banget sih nyisain makanan”
tutur gue dengan nada ketus. Dengan singkat dan jelas ia mengatakan “Gue lagi
diet ngga”. Usai makan dan menunggu tubuh untuk siap beraktifitas lagi, banyak
hal yang kami bicarakan, mulai dari ngomongin gubernur, rektor, dekan, dosen,
tukang tambal ban, hingga dosen yang mukanya mirip tukang tambal ban pun kita
omongin. Berbeda dengan wanita pada umumnya yang memahami banyak hal yang
bersifat feminim, wanita yang saat ini ada di hadapan gue juga memahami hal-hal
terkait otomotif, bukan karena hobby, tapi karena ayahnya memang memiliki
bengkel motor yang cukup besar di rumahnya, dan si kampret, ehh... maksud gue
Mella, ia harus paham terkait produk yang dijual saat membantu orang tuanya di
toko.
Mella
menanyakan seberapa sering ban motor gue bocor, dengan nada bercanda gue jawab
aja kalo ban motor gue bocor tiga kali sehari setelah makan. Wajah sinis Mella
muncul dan berkata “kayak minum obat dari dokter aja, tapi gue aminin dah”. Gue
yang kaget karena diaminin ban motor bocor tiga kali sehari langsung salah
tingkah dan kesel sama Mella, “janganlah, enak aja tiga kali sehari” jawab gue
dengan nada ketus. Akhirnya gue ceritain pengalaman gue terkait keluarnya udara
yang terdapat kandungan O2 dan Co2 dari benda yang berbentuk lingkaran terbuat
dari karet akibat adanya celah kecil di benda tersebut.
Dalam
seminggu terakhir sudah tiga kali ban motor gue bocor, bahkan gue juga udah
sempet ganti ban dalam, tapi masih saja bocor. Sampai-sampai setiap mau
perjalanan jauh, gue lebih sering mikir dimana tukang tambal ban yang
deket-deket di daerah tersebut, kalo ada nomor telponnya biasanya gue booking duluan. “Mel, apa motor gue
beneran kena kutukan ya? Gue pernah nabrak anjing sih di jalan tapi enggak
sampai mati sih, lalu gue juga pernah groang-groeng di tempat rada angker gitu gara-gara
ngebut ketakutan. Ban dalam sudah diganti, tapi tetep aja bocor”. Dengan
menghela nafas, Mella mengatakan bahwa penyebab ban motor bocor itu ada banyak
hal, tidak hanya dari ban dalam saja, “Misalnya Mel?” tanya gue, “Misalnya apa
ya? Motor lu ngelindes ranjau sisa perang jaman jepang dulu yang masih aktif
hingga sekarang” Jawab si Mella sambil nyengir. “Kalo yang itu nggak bakal
bocor di ban doang, tapi di mesin, di body motor, hingga di badan gue NYET !!”
Balas gue dari ejekan dengan nada tinggi
kepada si betina tersebut yang lagi nyengir.
Mella
mengatakan penyebab ban motor itu memang banyak, selain menginjak ranjau yang
masih aktif sisa jaman perang, penyebab lainnya adalah ban luar yang sudah
terlalu tipis yang membuatnya kurang mampu melindungi ban dalam, sehingga ban
dalam lebih mudah tertusuk oleh benda-benda asing yang bersifat tajam dan mampu
membuat lubang. Penyebab lainnya adalah tekanan angin, tekanan angin pada ban,
tekanan angin haruslah tepat, tidak boleh terlalu keras atau terlalu lembek,
terlalu lembek disertai membawa beban motor yang berat akan membuat ban dalam
mudah terlukai. Selanjutnya ban motor bocor juga dapat disebabkan karena velg motor yang berkarat dan terdapat
bagian yang tajam. Penyebab lainnya yang jarang disadari orang-orang adalah
soft breaker, baik yang di depan atau di belakang. Soft breaker memiliki peran dalam meminimalisir benturan akibat
jalan yang tidak rata atau penuh lubang-lubang, ketika soft breaker sudah tidak mampu lagi meminimalisir dan melembutkan
benturan, maka benturan akan langsung ditujukan pada ban, sehingga ban akan
lebih mudah bocor.
“Terus
yang bisa dilakukan untuk mencegah ban bocor apa Mel?”, tanya gue dengan nada
penasaran. “Banyak ngga, pertama lu nggak menginjak ranjau, et... jangan marah
dulu, ranjau disini maksud gue adalah paku yang secara tidak sengaja ada di
jalan ataupun paku yang sengaja ditebar di jalan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab, kedua tipe paku ini enggak ada bedanya, lu tetep harus
ngindarin kalo nggak mau ban motor lu bocor”. Gue Cuma bisa bengong dan heran
dengan penjelasan dua jenis tipe paku yang ia jelaskan dan dapat gue garis
bawahi bahwa kedua tipe paku itu enggak penting untuk diceritakan
sedetail-detailnya kayak gini. Mella menambahkan bahwa, “Selain itu hindari juga
menabrak lubang dijalan dengan kecepatan tinggi, menabrak lubang di jalan
dengan kecepatan tinggi selain merusak ban, itu juga dapat merusak velg dan mengancam keselamatan lu, itu
sangat berbahaya ngga. Perlu lebih ekstra waspada menghindari lubang apabila
soft breaker sudah tidak dapat bekerja dengan maksimal atau rusak, ban bisa
gampang bocor. Terakhir adalah pastikan tekanan udara dengan tepat, kalo ban
terlalu lembek, jangan bawa barang berat, kayak kulkas atau lemari dua pintu gitu” tuturnya sambil nyengir lagi.
“Untung aja ban motorlu sekarang udah pas dan enggak lembek, bisa bawa kulkas
jadinya”, ejek gue kepada gadis yang kini memasang ekspresi kesal dan menahan
angin dimulutnya yang membuatnya tampak menggemaskan.
Gue
ngerasa kagum dengan pengetahuan yang Mella miliki, ingin sekali rasanya memuji
dan menyatakan kekaguman gue padanya, tapi rasa gengsi dan pemikiran masak
cewek lebih paham otomotif dari pada gue ngebuat gue mengatakan, “Tau deh yang
punya bengkel motor gede, jadinya paham banget tentang motor”. Senyuman yang
sangat manis sebelum ia bicara terlukis kembali di wajahnya, Mella mengatakan
“Ya itu salah satunya, tapi sekalipun bapak gue buka toko sembako dan bukan
buka bengkel, gue ngerasa gue memang harus tetep ngerti tentang motor, karena
gue adalah cewek. Motor itu bagaikan kaki gue jika mau kemana-mana, gimana kalo
seandainya ada suatu acara atau kerjaan yang ngebuat gue harus pulang malam dan
pas malam hari motor gue mogok dan berhenti di tengah jalan, mending tempatnya
rame dan aman jadi gue bisa nelpon keluarga atau nelpon lu, terus nunggu
sebentar, gimana kalo tempatnya sepi dan gelap? Mencegah kan lebih baik ngga.
Kita harus selalu menyiapkan kendaraan kita agar layak digunakan saat berada di
jalan, demi keselamatan kita bersama juga”.
Akhirnya gue mengakui pengetahuan yang ia
miliki terkait otomotif dan mengabaikan rasa gengsi gue sebagai seorang cowok.
Dengan ekspresi ceria dan nada yang hangat, gue mengucapkan terima kasih banyak
atas informasi yang Mella berikan ke gue. Mella tersenyum dan mengatakan,”Nanti
kita cek bareng-bareng aja kondisi motor lu di toko gue, toko gue itu adalah
dealer resmi honda yang menjual spare part resmi kok, teknisinya juga telah
bekerja dengan standar operasional honda”. “Anjrit, ternyata gue di prospek,
meski kita sahabatan otak dagangnya tetep jalan”, jerit hati gue. Namun
setidaknya, informasi yang ia berikan ke gue sudah membuka pemikiran gue
tentang pentingnya kesadaran dalam mempersiapkan kendaraan agar layak jalan
demi keselamatan gue sebagai pengguna jalan dan para pengguna jalan lainnya.
.